Thursday, February 6, 2014
MERINGKAS BUKU
TUGAS BAHASA INDONESIA

OLEH
NUFERA LUPIKA DANI (11171)
SEKOLAH MENENGAH ATAS ( SMA )
NEGERI 5 DENPASAR, BALI
2014
RINGKASAN BUKU
HARI RAYA SARASWATI
A.
BAGIAN PERMULAAN BUKU
1)
Kulit Luar
Judul buku ini adalah Hari Raya Saraswati yang disusun oleh Dra. Ni
Made Sri Arwati, MSi pada tahun 2007. Kulit buku ini berwarna kuning disertai
dengan gambar patung Dewi Saraswati dengan berbagai atributnya. Dewi Saraswati
adalah sakti dari Dewa Brahma, merupakan Dewi sumber ilmu pengetahuan dan
kebijaksanaan. Hari Raya Saraswati merupakan hari beryoganya Dewi Saraswati
untuk dipuja, guna memohonkan ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, sumber bahasa,
sastra, dan seni.

2)
Halaman Judul Khusus
Hari Raya
Saraswati
3)
Halaman Judul
Hari Raya
Saraswati
4)
Halaman Tahun Penerbitan
2007
5)
|
Halaman Pengantar.……………………………………………………….. i
6)
Halaman Daftar Isi.…………………………………………………...…….ii
B.
BAGIAN BATANG TUBUH
BAB I
HARI RAYA SARASWATI
Kepercayaan dan pemujaan kepada para dewa dan dewi telah memenuhi
kebutuhan praktis dalam kehidupan umat Hindu. Walaupun keberagaman nama dan
wujud dari para dewa dapat membingungkan, namun salah satu cara yang aman
adalah kita tidak melupakan bahwa wujud Tuhan dan segenap manifestasinya yang
kita puja merupakan perwujudan dari atribut yang memperlihatkan prinsip-prinsip
utama atau pedoman-pedoman hidup yang harus kita jalankan agar dapat terbebas
dari segala kegelapan duniawi. Oleh karena adanya keterbatasan untuk memahami
kebenaran dan keberadaan Ida Sang Hyang Widhi, dengan demikian pemuja harus
menggunakan bantuan ilustrasi ataupun imajinasi, karena dengan menggunakan
gambaran dan imajinasi dalam semangat yang benar akan membantu untuk memahami
kebenaran dan ajaran weda baik yang bersumber dari Bhagavad Githa maupun
pustaka suci weda lainnya. Dengan demikian akan memudahkan para pemuja menuju dan
mendekatkan dirinya kepada Hyang Maha Pencipta dan pada akhirnya menghantar kita pada Roh tak terbatas
(Brahman).
Begitu juga dalam perayaan Hari Saraswati. Kata Saraswati berasal dari
kata saras yang artinya sesuatu yang mengalir dan wati yang artinya memiliki.
Saraswati diartikan sebagai sumber dari segala sumber ciptaan yang ada, dimana
Beliau mengalirkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Ada beberapa nama yang
digunakan untuk melukiskan Dewi Saraswati : Sarada
(pemberi intisari), Vagisvari
(penguasa kata-kata), Brahmi (pendamping
Brahma), Mahavidya (pengetahuan
utama). Disamping berdoa, berjapa dan melakukan yadnya atau persembahan kepada
Dewi Saraswati sebagai dewi sumber ilmu pengetahuan, sebaiknya perlu memaknai atribut / simbol-simbol yang
menyertai-Nya sehingga kita akan lebih dekat,
dapat menghayati dan memahami secara mendalam dan mengamalkan
ajaran-ajaran yang terkandung dalam makna simbol-simbol tersebut.
BAB II
SIMBOL SARASWATI
- Wujud Dewi
Disimbolkan seorang dewi
atau wanita cantik yang menawan dan memikat hati setiap orang/ bhakta yang
menginginkan untuk dapat memilikinya sesuai dengan sifat dari ilmu pengetahuan
suci mempunyai daya tarik bagi siapapun untuk mendekat dan berusaha mempelajarinya.
- Teratai
Bunga teratai adalah simbol ilmu pengetahuan suci yang
harus diamalkan dalam segala kehidupan agar kebenaran ini dapat berdiri tegak
dan tidak tergoyahkan.
- Pustaka
Atribut pustaka yang ada ditangan kiri bagian
belakang adalah melambangkan gudang ilmu pengetahuan yang memuat seluruh bidang
ilmu pengetahun sekuler.
- Vina
Vina atau kecapi adalah simbol ilmu pengetahuan, seni
budaya yang agung, bila kecapi/ musik dimainkan maka akan dapat menimbulkan
daya tarik bagi pemainnya maupun orang yang mendengarkan
- Genitri / Aksamala
Aksamala (tasbih) yang tergenggam ditangan kanan,
melambangkan seluruh ilmu pengetahuan spiritual atau yoga termasuk tapa,
meditasi dan japa harus terus dipelajari.
- Burung Merak
Burung Merak dengan warna bulunya yang indah
menandakan dunia ini dalam segala kemuliaannya.
- Hamsa/ Angsa
Angsa melambangkan kebijaksanaan dan melambangkan pengetahuan
karena Angsa mempunyai kemampuan untuk membedakan.
BAB III
UPAKARA PIODALAN SARASWATI
Hari Raya Saraswati jatuh pada hari Saniscara Umanis Wuku Watugunung atau
210 hari sekali. Pelaksanaan upacara pemujaan Dewi Saraswati dilakukan pada
pagi hari atau sebelum tengah hari. Sebelum upacara pemujaan Dewi Saraswati,
umat Hindu ada yang melaksanakan brata, bagi umat tersebut tidak diperkenankan
membaca, menulis sastra dan kesusasteraan selama 24 jam, dan apabila melanggar
niscaya hasilnya tidak mendapatkan waranugraha Ida Sang Hyang Aji Saraswati.
a. Tingkatan upakara
1)
Tingkatan
sederhana, meliputi :
Banten Saraswati, Canang Buratwangi, Lengawangi dan air
kumkuman.
2)
Tingkatan Madia,
meliputi :
Banten Saraswati, Sesayut Saraswati, Rayunan Saraswati,
Pejati, Dapetan sorohan tumpeng lima atau tumpeng pitu
3)
Tingkatan lebih
besar/ utama, meliputi :
Tingkatan madia, ditambah dengan Suci, Gebogan, Daksina linggih,
Perangkatan putih-kuning, Kembang wangi-wangian
Upakara
setelah hari Saraswati :
- Pada Redite Paing Wuku Sinta, umat Hindu melaksanakan upacara Banyu Pinaruh (membersihkan diri/ pikiran).
- Pada Soma Pon Sinta/Some Ribek, melakukan pemujaan kepada Bhatari Sri Amerta (dewi kemakmuran).
- Pada Anggara Wage Sinta/Sabuh Mas, melakukan pemujaan pada pelinggih (piyasan) ditujukan kepada Dewa Mahadewa (penguasa kekayaan seperti emas, manik, mutu manikam, perhiasan-perhiasan.
- Pada Buda Keliwon Sinta/Pagerwesi, dilakukan pemujaan kepada Hyang Pramesti Guru (Bhatara Siwa dan Dewata Nawa Sanga), persembahan dilakukan pada pelinggih/ Sanggah Kamulan.
BAB IV
CATATAN BEBERAPA BUAH
UPAKARA
- Canang Burat Wangi Lenga Wangi :
Alas : ceper, taledan
Isi : plawa, porosan, 2 buah tangkih/celemik masing-masing berisi burat wangi dan lenga wangi, urussari/wadah lengis, diisi bunga, rampe, dan boreh miik.
- Pebersihan :
Alas : memakai ceper, taledan
Isi : 7 buah tangkih,
masing-masing diisi ambuh/daun pucuk
diiris-iris atau parutan kelapa, sisig,
tepung tawar, tepung kuning, asem, minyak, bija, canang payasan
- Rayunan Saraswati :
Alas : taledan
Isi : nasi gibungan/pangkonan
putih dan kuning, rarasmen, ulam guling
itik/ayam putih, canang pabersihan,
dan canang sari.
- Banten Saraswati :
Alas : ceper, tamas
Isi : beras warna catur manyayah,
biji-bijian warna panca manyayah, rujak sagara gunung, rujak dialasi takir,
bubur precet, bubur cendol, jaja kukus catur, bubur sumsum, dan jajan saraswati.
- Sasayut Saraswati :
Alas : kulit sasayut
Isi : 3 buah penek, rarasmen,
raka-raka, sebuah sampyan nagasari
dilengkapi canang burat wangi lenga wangi
dan panyeneng.
- Sasayut Mertasari :
Alas : kulit sasayut
Isi : tumpeng yang ujungnya berisi cawan, setangkai bunga tunjung,
rarasmen, raka-raka, dan sebuah sampyan tumpeng/nagasari.
BAB V
BEBERAPA KUTIPAN
MANTRAM
1. Ngayabang banten
Singgih
pakulun Sang Hyang Saraswati, Manusanira angaturaken panyeneng, weton ira Sang
Hyang Saraswati, keranan nira manusa angaturang panyeneng weton ira Sang Hyang Saraswati
manusanira aminta kasidian, kasaktenan, kapragiwakan, katriaksaran, weruh
katanggap de nira Sang Hyang Saraswati, bayu sabda pinaka banten, idep
ananggapin, Om Sidhirastu ya namah.
2.
Puja Stawa
Saraswati
a.
Memohon Titha, dilakukan oleh Pamangku
b.
Nyiratan Tirtha
Tirta dipercikan tiga kali pada Buku-buku, Lontar/ Pustaka memakai bunga
warna putih, dengan mantram :
Ong Ong Saraswati phat astraya
namah
Ong Ang Gangga Saraswati Sudhaya
namah
Lalu dilanjutkan dengan membersihkan
buku/pustaka/lontar kemudian dilanjutkan dengan pebersihan/ pasucian.
- Doa
Persembahyangan Pada Hari Raya Saraswati
Diawali dengan Puja Trisandya, dilanjutkan dengan
Kramaning Sembah/Panca Sembah :
a.
Sembah Puyung
b.
Sembah ditujukan kepada Sang Hyang Aditya
c.
Sembah ditujukan kepada Istadewata/ Sang Hyang Aji
Saraswati :
Om Brahma Putri Maha Dewi,
Brahmanya Brahma Wandhini,
Sarasvati sayajanam, praja naya
Sarasvati,
Om Sarasvati dipata ya namah
d.
Sembah ditujukan kepada Bhatara Samodaya
e.
Sembah puyung
BAB VI
BEBERAPA BENTUK GAMBAR SARANA UPAKARA





C.
BAGIAN PELENGKAP BUKU
1)
Daftar Pustaka ……………………………………………… 63
Saturday, August 17, 2013
Peran Media Sosial Dalam Membangun Kemandirian Siswa
Peran Media Sosial Dalam Membangun
Kemandirian Siswa
Membangun
suatu bangsa baik pembangunan fisik maupun mental-spiritual memerlukan perjuangan
yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan oleh semua komponen bangsa meliputi
perencanaan, pengorbanan waktu, tenaga, biaya, pemikiran dan sarana agar bisa
menjembatani keinginan dari masing-masing kelompok masyarakat. Salah satu
sarana yang diperlukan adalah keberadaan media sosial untuk menyerukan dan
menyuarakan program-program jangka pendek maupun panjang dengan harapan agar
semua pihak dapat mengetahui dan ikut serta terlibat dalam proses pembangunan
tersebut.
Agar media sosial dapat
berperan maksimal dalam proses pencerdasan bangsa, maka media sosial harus
mampu mengemas program-program yang dapat menarik simpati masyarakat termasuk
siswa untuk berpartisipasi menyampaikan apa yang diharapkan ataupun apa yang
terjadi di wilayahnya. Disamping itu media sosial harus bersedia menerima dan secara
cepat menyampaikan informasi yang transfaran dan berimbang serta memberikan
porsi lebih banyak untuk program-program yang bersifat membangun serta
mengembangkan kemandirian masyarakat.
Bergesernya nilai-nilai
luhur yang ada dan telah berkembang di masyarakat disebabkan oleh pesatnya kemajuan teknologi
informasi dan mudah masuknya budaya asing. Media sosial sebagai sarana tukar
menukar informasi harus menyampaikan informasi secara utuh menyangkut segala
aspek kehidupan masyarakat dan segala yang terjadi maupun yang telah dilakukan
oleh pemerintah serta pihak lain secara seimbang agar informasi tersebut dapat
ditelaah, dimaknai secara benar dengan pikiran jernih dan diharapkan dapat
menjadi referensi ataupun inspirasi bagi yang memanfaatkannya. Dalam
penyampaian informasi atau program tayangan pada media sosial maupun online
sudah tentu harus diikuti dengan regulasi dan sosialisasi kepada masyarakat
agar tidak terjadi penyalahgunaan yang berakibat merugikan pengguna baik
materiil maupun immaterial . . Disisi lain pemerintah sangat berkepentingan
agar transparansi informasi mengenai kemajuan pembangunan fisik dan mental
spiritual di seluruh pelosok negeri termasuk pulau terdepan dapat membawa angin
segar bagi siswa yang pada gilirannya
akan meningkantkan partisipasi mereka dalam proses pembangunan. Adanya transparansi
informasi berarti siswa dilibatkan untuk berperan serta mengawasi pembangunan fisik,
mental spiritual yang terjadi di negeri ini. Dengan demikian akan membentuk
kemandirian siswa yaitu merubah pola
pikir yang apatis, skeptis menjadi sikap yang kreatif, mandiri yang pada
akhirnya dapat menghindari diri dari pengaruh budaya asing yang tidak sesuai
dengan tradisi dan nilai-nilai luhur yang berakar dimasyarakat. Berikut ini ada beberapa model dan
sifat tayangan yang berpotensi merubah sikap atau pola pikir siswa, serta
menjadi perhatian banyak kalangan masyarakat, seperti :
a.
Kasus
kejahatan terhadap kemanusiaan, yang melanggar hak asasi, melanggar hukum dan
norma agama sperti kegiatan peredaran narkoba yang melibatkan banyak pihak, Berita perlakuan tidak manusiawi TKI di luar negeri, berita perdangangan
manusia dan penculikan bayi oleh
oknum mahasiswi.
b.
Konflik
sosial dan konflik horizontal yang terjadi di berbagai daerah yang
menghancurkan berbagai fasilitas serta tatanan budaya yang telah terbangun
sejak dulu dimana masing-masing suku/etnis dapat hidup rukun dan damai, saling
menghormati, dan saling menghargai perbedaan. Namun semua berubah cepat karena
adanya isu yang tak bertanggung jawab, serta dipicu dari adanya ketidakadilan,
kesenjangan ekonomi, rendahnya pendidikan dan tidak meratanya pembangunan,
menjadikan masyarakat pemaaf dan toleran menjadi brutal, seperti kerusuhan Sampang
dan Lampung Selatan. Dampaknya sangat tragis dan memilukan. Bukan hanya harta
benda, tapi juga nyawa yang melayang serta trauma berkepanjangan.
c.
Kejahatan
berdasi atau korupsi. Skandal korupsi tersebut terjadi hampir di semua lembaga dan melibatkan banyak oknum termasuk juga
yang menimpa lembaga pendidikan. Tidak adanya budaya malu dan berubahnya pola
hidup membuat orang mengambil jalan pintas menjarah uang negara untuk memenuhi
gaya hidup..
d.
Kriminal
: Penodongan/perampokan bersenjata, dimana hasilnya digunakan untuk pesta miras
dan kesenangan pribadi, tapi ada juga untuk pendanaan kelompok teroris.
Terakhir ada penodongan supermarket oleh oknum mahasiswa yang katanya diilhami
dari berbagai kasus perampokan. Penggereban sarang terorisme, peledakan bom, disinyalir
melibatkan beberapa oknum siswa. Ini juga sebagai dampak dari mudahnya mendapat
referensi untuk merakit bom dan melakukan jihad.
e.
Demo buruh,
tawuran antar masa, antar kelompok, antar siswa yang merugikan banyak pihak dan
membuat orang lain ketakutan, serta merugikan perekonomian karena banyak aktivitas
bisnis yang ditutup akibat tawuran maupun demo anarkis.
f.
Gosip
yang diekspose berlebihan mengenai kehidupan dan prilaku tidak mendidik
sekelompok orang, seperti prilaku selebritis.
Tayangan-tayangan
model tersebut diatas dimaksudkan agar masyarakat termasuk siswa mengetahui apa
yang sedang terjadi terhadap bangsa ini, mengambil hikmah dan menelaah agar
tidak terjebak dengan kehidupan seperti diatas serta mawas diri. Jadi penyebaran
berita lewat media sosial akan menjadikan masyarakat menjadi lebih dewasa dan
lebih mandiri dalam menyikapi permasalahan, dengan mengkritisi dan memberi
masukkan kepada pihak terkait lewat media sosial. Disinilah point penting media
sosial untuk ikut dalam proses meningkatkan kemandirian siswa serta pada akhirnya
ikut mencerdaskan bangsa..
Banyak tayangan
oleh media sosial yang menjadi inspirasi masyarakat untuk merubah cara pandang melalui
informasi yang disediakan sebagai referensi. Mereka menggunakan referensi
tersebut sebagai inspirasi untuk menciptakan ide-ide kreatif yang bernilai sosial maupun ekonomis.
Contoh-contoh kejadian yang ditayangkan oleh media sosial termasuk media online
adalah :
Perjuangan penuh
resiko : Dibelahan sana beberapa siswa sekolah dasar harus melewati tebing
terjal dibalik bukit agar bisa sampai di sekolah tempat mereka menuntut ilmu.
Kisah lain di pulau terdepan tidak ada sekolah yang disediakan pemerintah,
namun mereka tidak putus asa, sekelompok siswa harus menyebrang perbatasan,
melewati berbagai rintangan tanpa sepatu dan seragam sekolah dan berjalan
bermil-mil agar sampai di sekolah negara
tetangga Malaysia. Kisah siswa yang bertaruh nyawa menyebrangi sungai arus
deras selebar 20 meter selama 5 tahun, kemudian setelah laporan dari masyarakat
lewat media sosial akhirnya ada perhatian dari pihak pemerintah. Namun cukup
ironis dibeberapa kota besar justru siswa yang memiliki kesempatan lebih banyak
dan fasilitas memadai tidak disiplin menggunakan waktu dan fasilitas yang
tersedia, waktu belajar digunakan untuk bersenang-senang diluar sekolah. Contoh
tayangan tersebut dapat menggugah dan memunculkan rasa prihatin terhadap sesama,
memunculkan semangat baru dan merubah prilaku yang tidak produktif serta
menjadi inspirasi dimana mereka siswa tanpa fasilitas berjuang menggapai masa depan.
Mengapa kita dengan fasilitas serba lengkap dan modern menyia-nyiakan
kesempatan tersebut?
We are the champion
dan kami pasti bisa, slogan yang cukup emosional dapat membangun citra siswa.
Media sosial telah banyak dan seringkali menayangkan bahwa siswa-siswa kita mampu
meraih medali emas di berbagai olimpiade internasional. Dan beberapa siswa di
sekolah kejuruan mampu menciptakan alat maupun sarana dan telah mendapat
pengakuan, salah satunya adalah Mobil ESEMKA. Ide-ide kreatif ini akan
melahirkan inspirasi bagi siswa untuk maju serta berlomba menciptakan sesuatu
yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa agar menjadi sang juara. Siswa yang
suka mengeluh dan tidak kreatif akan
tertinggal oleh waktu dan mereka yang
sadar dan mandiri akan bergerak maju mengapai masa depan. Oleh karena itu
jangan sia-siakan kesempatan yang berharga untuk belajar agar suatu saat nanti
bisa mandiri secara sosial dan ekonomi.
Kesimpulan
1.
Media
sosial apapun bentuk, sifat, jenis, dan progam yang ditayangkan merupakan
sumber informasi, sumber referensi dan inspirasi yang sangat efektif bagi
siapapun, termasuk siswa dalam membentuk, mengubah, mempengaruhi cara pandang
atau perkembangan psikologis siswa.
2.
Media
sosial mempunyai kesempatan besar dan merupakan sarana yang ampuh dalam
membangun, menumbuhkan ide-ide kreatif, menambah wawasan, pengetahuan dan
sekaligus mencerdaskan siswa serta mampu
mencegah penafsiran yang keliru terhadap isu-isu sensitif yang berkembang di masyarakat.
3.
Penayangan
program kekerasan maupun program sejenis dalam media sosial termasuk keberadaan
situs-situs tertentu pada jejaring sosial tidak serta merta berpengaruh negatif
terhadap perkembangan psikologis siswa.dan justru sebaliknya akan meningkatkan
wawasan serta kemandirian siswa. Implikasi tersebut sangat tergantung kepada
sikap, cara pandang dalam menggunakan ataupun memaknai sumber informasi yang
tersedia atau kemandirian siswa bersangkutan
untuk memanfaatkan sarana media sosial
4. Peran pembimbing diperlukan bagi siswa yang
tidak siap memaknai informasi/ referensi yang tersedia pada media sosial
trmasuk media online
Saran
Agar tidak terjebak untuk mengikuti informasi dan konten yang tersedia dalam media
sosial yang kemungkinannya berimplikasi negatif maka langkah-langkah berikut
sebaiknya diikuti sebelum mengkases sumber referensi yang tersedia:
1.
Bertanyalah pada diri
sndiri. Siapa diri kita (latarbelakang sosial, ekonomi dan pendidikan),
apa tujuan dan manfaat yang diharapkan atas berita jenis tertentu yang diakses.
2..Yakinkan bahwa
program yang diakses sesuai dengan kondisi kita, jangan hanya mengikuti kata
hati atau sekedar iseng.
3.. Pahami isi
berita dan gambar yang muncul, maknai tayangan dengan pikiran positif dan akal
sehat dengan menggunakan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki.
4. Aplikasikan
sesuai dengan kemampuan kita, gunakan ilmu yang telah diajarkan, jangan sekali
mencoba atau sekedar iseng memakai informasi tersebut untuk suatu kegiatan yang
tidak bertanggung jawab, atau melanggar tatanan budaya, melanggar etika atau
norma yang telah tumbuh dan mengakar dimasyarakat serta melanggar hukum pidana
ataupun informasi teknologi.
e. Berkomunikasi dan berkonsultasi secara aktif
kepada orang yang lebih tahu/ bepengalaman apakah kakak kelas, pembimbing atau
yang lainnya sehingga kita terhindar dari hal-hal yang dapat menjerumuskan
serta kita tidak terperangkap menjadi anggota kelompok atau jaringan tertentu yang meresahkan masyarakat.
f. Bila terlanjur mengakses informasi diluar
jangkauan pengetahuan serta akal sehat, hindari ajakan, hasutan, provokasi
orang yang tak dikenal baik langsung maupun lewat media sosial.
g. Waspadai dan
antisipasi perubahan prilaku teman sekelas serta lakukan komunikasi dengan yang
bersangkutan dan berikan masukkan bila ia terjebak oleh tayangan ataupun
provokasi dari media sosial.
Nufera Lupika Dani
SMAN 5 Denpasar
X-1/26/11171
PUISI BAHASA BALI
PUISI BAHASA BALI
Mati Nguda
Madiane magantung senjata lanang
Sirahe matekes bendera gelah
Barak-barak karsane maules kenyung
Putih-putih karsane tulus mulus
Madiane magantung senjata lanang
Sirahe matekes bendera gelah
Barak-barak karsane maules kenyung
Putih-putih karsane tulus mulus
Tegal pangkunge keterabak
tan sawetara, Matatah mirang parangan, Ngrobok duin urip, Mirib mapinunas jelap
tekad apang maan buka keto, Sambilanga sing nawang nyen nunden muah ngajinin
Inget sukune pancer gumi
Sukane aketi mabakti ken pertiwi
Takut suarane sing katimpalin
Masuriak nyerit Belanda musuh kai
Suara barak suryan barak laksana barak
Sukane aketi mabakti ken pertiwi
Takut suarane sing katimpalin
Masuriak nyerit Belanda musuh kai
Suara barak suryan barak laksana barak
Anggene tidong gelah,
Kentelan serbuk tanah, Idupe tungkulan suling tawah, Atmane sing dadi puun,
Ngawewehin suarane tandi cadik, Musuhe katon kelepon, Lantas nurumbag pagelaran
yuda, Masuriak nyerit Belanda musuh kai, Kanti nepukin unduk buka jani
Madiane magantung sanjata lanang
Sirahne matekes bendera gelah
Marengin kenyitan apine kuning bering
Nyohsoh maserah angga marep pertiwi
Magrebiug
Tangkahe bolong
Sirahne matekes bendera gelah
Marengin kenyitan apine kuning bering
Nyohsoh maserah angga marep pertiwi
Magrebiug
Tangkahe bolong
Barak-barak lambene
maules kenyung, Putih-putih karsane tulus mulus, Ambune sumirit ngebekin jagat
Olih : Putu Sedana
BUNGA DI ATI
Yen tolih melahang
Nak mula cara pragina
Lengen lantang bastis dawa
Bangkiang rengkiang cara biola
Ngae kenehe uyang paling
Yen tolih melahang
Nak mula cara penyanyi
Munyi halus nelusuk hati
Paras ayu buka selebriti
Sing taen absen kaipiang
Bajang jegeg gadis kampung
Diapain kampung nak mula ayu
Ayu saking tengahin ati
Sampurna sekadi bunga
Miik ngalub ngebekin gumi
Bajang jegeg gadis bali
Sing ada ne nyidang nyaingin
Sing ade ne nyidang matuhin
Ayu paras ayu budi
Nyihnayang gadis bali sujati
Ilang suba ragu di ati
Nyingakin paras ayu sekadi dewi
Saking langit turun ke mayapada
Miik ngalub bunga swarga loka
Ilang suba rasa sangsaya
Gadis ayu gadis bali sujati
Ayu paras ayu budi
Ngae tentram ring ati
Kanti mati
Bali
Tabuh, solah lan wirama driki masikian
Idup kaidupang antuk dasar manah suci
Suara bajra ida pedanda mlarapan weda-weda
Juru kidung matimpuh ngidungang wargasari
Sekadi maayunan ring muncuk-muncuk penjore
Magejeran ring oncer canang sari
Luhur masucian tur dahating ngulangunin
Sajeroning manah
(buin pidan tiang liang, apang liang dini di tengah-tengah oleg
tamulilingan)
Ngiring mangkin sikiang ragane
Nyegjegang warisan leluhur sami
Mabalik sumpah ring manah soang-soang
Anggen sanjata dahating sakti
Pacang warisin oka putune ungkuran
(buin pidan tiang sebet, apang sebet dini katembangin pupuh
semarandana)
Wentenke?
Becikan ring hidup pasuka-dukan
Salunglung sebayantaka
Ngulangunin suara suling pangangon
Bajang-bajang nembang ngalih saang
Semar paguling di jaba pura
Wentenke?
(buin pidan tiang mati, apang mayi dini, kaaterang kakawin
prihantemen)
Olih : Ngurah Yupa
Tutur Tuturang
Jani makejang suba dueg nutur
Kemu mai ngaba tutur
Ulian tutur anak bisa dueg
Ulian tutur anak bisa sugih
Ulian tutur mase bisa lacur
Ulian tutur demenin timpal
Ulian tutur muane benges
Sing bisa nutur
Orahanga jeleme belog
Kedekin timpal
Dueg nutur
Kema mai ngaba tutur
Marasa bonggan
Kema mai nutur
Tutur buin tuturang
Ane medik dadi liu
Pelih bisa dadi beneh
Beneh masi bisa pelih
Engkur engkur ……..
Nglidang awak belog
Gelar gelur ngedengang goba
Kauk kauk pang kadena dueg
Ane besik dadi dua
Ane bawak dadi lantang
Beh…..
Liunan tutur med ningehang
Olih : Dian Saputra
Bikul
Ri kala anake agung,
Masabda,
Mangda nreptiang pawangunan,
Ring Kuta negari,
Desa desa,
Rauhing ka gunung-gunung
Sami trepti,
Nglaksanaang pawangunan,
Ri kala puniki
Ipun I bikul
Makenyem liang
Padelok mangintip
tongos,
Ngalih amah ane
melah,
Inggih ratu,
Ngiring mangkin,
Ulah,
Ejuk,
Pademang,
Ipun I bikul
Meseh jagat
Sane momo,
Angkara,
Durhaka,
Sane ngranaang,
Janggel pawangunane,
Ngiring ratu,
Pada yatna ngaba raga,
Reh I bikul,
Ngamargiang daya upaya singid,
Ngutgut ngupinin,
Saking silib,
Nglaksanaang manah corah
Olih : I Gusti Made
Suastika
Pagaen Titiange
Ri kala puniki titiang ngeling
Ring panggunge
Para penonton sareng sungsut kayun
Ring korsine
Blabar yeh mata ngliahin
Gedung komedi
Tedung sampun
kaunebang
Tenges matekep
Sajeroning langse di tengah rangkine
Mawali titiang makenyem
Sedih titiang kimon ngae-ngae
Nanging….kalin titian para penonton
Ngebiosang yeh mata
Ngeling, sengu-sengu
Ah, pegaen titiange
Kimon mancing
kasedihan timpal titiange
Olih
: Wayan Rugeg Nataran
Subscribe to:
Posts (Atom)

